redaksi 02
21 Jun 2020 01:25 WIT | 20 days ago
image
Dosen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Pattimura

Tidak sedikit pernyataan Gubernur Maluku Murad Ismail (MI) mendapat sorotan. Beberapa yang menjadi riuh adalah menantang perang mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, menyinggung Walikota Ambon dengan sebutan Cengeng, hingga menantang warga yang mengeritik kinerja Tim Gugus Tugas Covid-19. Belum lagi pernyataan keras Murad dalam berbagai pertemuan resmi dilingkup pemerintahan Provinsi Maluku. Rentetan informasi media ini lantas membentuk stereotip di masyarakat, jika mantan Dankor Brimob ini adalah pribadi yang keras dan tidak humanis.

Publik membaca, gaya komunikasi blak-blakan ala Murad berkaitan erat dengan lingkungan tempat ia berkarir selama 33 tahun di Kepolisian. Pengalaman itu yang kemudian dianalogikan sebagai pola komando sang jendral dalam menjalankan pemerintahannya saat ini.

Namun sejauh mana persepsi itu mewakili karakter sebenarnya Gubernur Maluku Murad Ismail? Berikut adalah wawancara eksklusif LiputanMaluku dengan Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pattimura, Dr. Pahrul Idham Kaliky, S.Pd, M.Si:

Banyak pernyataan Gubernur Maluku Murad Ismail yang Menuai Reaksi, Bagaimana Anda Melihatnya dari Perspektif Komunikasi ?

Sebelumnya saya ingin mengatakan, kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia begitu kompleks dan kita semua sedang memainkan peran masing-masing lewat sejumlah interaksi sosial. Melalui interaksi itulah, maka manusia dapat melihat penampilan di antara sesama.

Harus disadari bahwa penampilan dari depan tidaklah cukup untuk menjadi dasar dalam mengambil suatu kesimpulan, melainkan harus mampu menerobos hingga mendapatkan gambaran nyata dibalik penampilan depan tersebut.

Yang nampak lewat indera pengelihatan hanyalah setara dengan sebuah panggung, seperti kita sedang memainkan drama, atas dasar itulah maka siapapun dapat dengan mudah membuat kesimpulan berdasrkan apa yang nampak dari depan itu. Namun dibalik dari yang nampak lewat indera itulah yang sesungguhnya harus dimengerti oleh publik, inilah yang harus dipahami dengan baik oleh publik Maluku atas sikap tegas sosok pribadi sang Gubernur.

Tapi Banyak juga yang menyimpulkan Seperti itu ?

Memang beberapa kalangan mengatakan bahwa Gubernur Maluku merupakan sosok pribadi yang tegas dan disiplin. Ditambah lagi banyak angle informasi yang lebih menyorot pada sikap keras MI sehingga memunculkan stigma bahwa mantan Dankor Brimob itu adalah sosok gubernur yang keras, tegas, dan tidak pernah kompromi.

Namun itu belum cukup untuk membaca keseluruhan karakter seseorang. Kita belum melihat ruang yang proposional dari informasi yang ada, antara yang keras dengan yang soft. Saya pikir banyak hal positif yang sudah dilakukan beliau namun luput dari pemberitaan media.

Bagaimana Anda Menjelaskan Karakter Lain Dari Gubernur ?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak banyak informasi yang mengulas soal karakter pembanding tentang Gubernur MI. Namun dari sedikit informasi ini saya coba melakukan pendekatan yang paling pribadi, yaitu hobinya bernyanyi. Dari sini, saya sedikit mendapat gambaran atau petunjuk tentang sifat penyayang dan kelembutan dari pribadi mantan orang nomor satu di Korps Brimob tersebut.

Dalam beberapa kali kegiatan ditingkat provinsi, Gubernur pernah menunjukan bakat bernyanyi di depan publik. Sekilas, mungkin publik hanya berpandangan bahwa itu hanya sekedar hobi. Sebatas itu yang terlintas dipikiran orang yang menyaksikan dia bernyanyi, namun kalau ditarik lebih jauh lagi ada sebuah makna yang tersirat dibalik hobi itu. Bernyanyi adalah bentuk komunikasi yang paling tulus karena menggunakan hati dan rasa.

Perlu diingat bahwa peneliti dari International Laboratory of Brain, Music, and Sound Research Universite de Montreal, Sean Hutchins mengatakan bahwa bernyanyi merupakan aktivitas yang sangat rumit. Lebih dalam lagi, menjiwai sebuah lagu dan menjaga stabilitas suara dalam bernyanyi harus mampu dilakukan dengan penuh rasa. Pandangan ini tidak dalam kapasitas saya sebagai pakar musik namun saya lebih melihat sosok gubernur yang tengah menunjukan kasih sayangnya ke publik lewat bernyanyi tersebut.

Apalagi secara pribadi, beliau menyadari tidak hidup sendiri, ada saudara, kerabat yang sangat dicintai serta masyarakatnya yang sangat dia cintai. Pada wilayah seperti ini yang tidak pernah ditampilkan oleh MI di depan publik saat memimpin.

Itu Terlalu Pribadi, Tidak Banyak Yang Mengetahui Kecuali Orang-orang Disekitarnya, Bagaimana Dengan Yang Tampak di Publik ?

Karena itu sejak awal saya katakan, ruang dan kesempatan untuk mengekspos hal-hal yang bersifat pribadi sangat kurang. Fokus publik hanya pada hal-hal sensasional dari pernyataan-pernyataan Gubernur.

Namun ada satu kasus yang menarik perhatian saya, penangkapan Yopi Teterissa. Diketahui bahwa Yopi Teterissa merupakan salah satu warga Kota Ambon yang telah melakukan hujaran kebencian dan makian terhadap gubernur lewat akun facebooknya. Bersangkutan sempat ditangkap dan di tahan selama dua hari di Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease. Setelah dua hari ditahan, kemudian dia dibebaskan atas permintaan Murad Ismail (MI). Bahkan MI juga mengundang bersangkutan, istri, dan ibundanya Leonora Teterissa untuk makan malam bersama, dan disela-sela perjumpaan tersebut Murad kembali menyampaikan permohonan maafnya kepada Yopi, istri, dan ibunya Yopi atas penangkapan dan penahanan yang dilakukan. Selain itu, MI juga meminta istri Yopi untuk kuliah dan kerja.

Berangkat dari fakta seperti ini, apakah sang jenderal sedang bersandiwara dan ingin menunjukan ke publik akan kemurahan hatinya?. Saya pikir tidak seperti itu. Kalau hanya sekedar melihatnya demikian, maka apa yang hari ini publik beranggapan bahwa MI merupakan pribadi yang keras itu tidaklah tepat. Semestinya yang harus dirasakan adalah bagaimana seorang yang dianggap keras dan pernah menduduki jabatan penting di republik ini dapat menyikapi pencemaran nama baiknya seperti itu.

Posisi ini yang tidak terungkap ke publik dengan baik. Harusnya dipahami bahwa MI juga memiliki 4 (empat) anak. Posisi beliau sebagai orang tua tentu sangat berbeda bila itu dibandingkan dengan kerasnya pribadi beliau yang hari ini di persepsikan oleh publik. Orang tua mana yang ingin melihat anaknya menderita. Maka sikap positif dari sang jendral itu yang mestinya dirasakan.

Memaknai sikap MI terhadap Yopi tidak hanya sebatas dipandang sebagai bentuk pencitraan dan tidak elok lagi kalau sang jendral harus turun lagi ke daerah untuk membangun pencitraan atas dirinya, melainkan lebih kepada sisi lain yang disebut dengan perasaan kemanusiaan MI itulah yang jauh lebih penting untuk dilihat.

Jadi Pesan Apa yang Ingin Anda Sampaikan ?

Jangan cepat menyimpulkan. Tidak tepat jika langsung menjustifikasi pribadi MI adalah sosok yang keras lewat informasi-informasi yang negatif. Kita harus memberi ruang yang seimbang. Merasakan proses yang sudah dilewatinya hingga di posisi ini tidaklah mudah seperti yang kita pikirkan. Sejumlah rintangan pernah dilaluinya, dan proses panjang hingga sampai dengan saat inilah yang membentuknya menjadi pribadi yang tegas.

Olehnya itu, kembali saya ingatkan bahwa mendeskripsikan pribadi MI seperti ini janganlah dipandang seakan-akan sedang berolah kata untuk menarik simpati, melainkan yang lebih penting disini adalah bagaimana membangun cara pandang publik yang baik, pandangan yang positif terhadap gaya komunikasi publiknya sang jendral. (**)

Widya Murad Ismail Maluku Gubernur Maluku
0